Searching...

Kamis, 27 September 2012

Ketika facebook Terasa Kuno - “It’s time to WEB 3.0 era..”

Sebenarnya tidak ada yang tahu pasti dari definisi WEB 3.0 secara gamblang dan jelas. Secara umum, karakteristik dari perkembangan WEB itu sendiri dapat kita lihat sebagai berikut :
  • WEB hanya menyuguhkan informasi tanpa adanya timbal balik terhadap penggunanya, ini adalah era WEB 1.0 
  • Adanya aktivitas bertukar informasi (sharing) dan saling berkomunikasi antar pengguna, luasnya fasilitas yang disuguhkan oleh WEB merupakan ciri khas dari WEB 2.0 
  • WEB 3.0 = ??? 
Era Web 2.0 juga menandakan masa di mana orang per orang kian terhubung. Istilah Web 2.0 sendiri, pertama kali diperkenalkan oleh O’Reilly Media pada 2004. Web 2.0 disebut oleh O’Reilly adalah revolusi industri komputer yang menjadikan web sebagai platform untuk berbagai kegiatan komputasi manusia. Contoh : Youtube, Flickr, Wikipedia, MySpace, Facebook, Twitter, dsb..

WEB 2.0 Characteristics
  • Web sebagai platform, dimana menjadikan web sebagai tempat bekerja di manapun anda berada. 
  • Adanya partisipasi dari pengguna dalam berkolaborasi pengetahuan.
  • Data menjadi trademark-nya aplikasi. 
  • Web 2.0 sebagai akhir dari siklus peluncuran produk software. 
  • Dukungan pada pemrograman yang sederhana dan ide akan web service atau RSS. 
  • Software tidak lagi terbatas pada perangkat tertentu. 
  • Adanya kemajuan inovasi pada antar-muka (interface) di sisi pengguna. Dukungan AJAX yang menggabungkan HTML, CSS, Javascript dan XML
WEB 3.0
  • Tim Burners-Lee dan Nova Spivack baru menyebutnya Semantics Web. Namun yang pasti Web 3.0 baru akan berjalan penuh pada rentang tahun 2010 - 2015, bukan saat ini. (Sumber : Nova Spivack) 
  1. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan lebih maju di era Web 3.0. Web akan bisa memahami kata per kata yang diketikkan manusia secara kontekstual dalam tahapan tertentu. Contoh : Jika saat ini Anda mengetikkan “Makanan China di Yogyakarta” di Google dan mendapatkan kebanyakan taut (link) yang tidak relevan, di masa Web 3.0 hanya akan ada taut-taut ke restoran makanan China di Kota Yogyakarta.
  2.  Pengggunaan Web di berbagai perangkat bergerak akan lebih luas dan canggih daripada saat ini. Tidak hanya ponsel, jam tangan dan televisi diprediksi akan bisa digunakan untuk mengakses internet. 
  3.  Merger antara Web dan bentuk media lain akan terjadi. Malahan, media tradisional akan semakin memanfaatkan internet sebagai salah satu jalur distribusinya. Siaran radio, televisi, dan film layar lebar akan lebih banyak didistribusikan lewat internet ketimbang saat ini. 
  4.  Web akan berevolusi dari tampilan dua dimensi ke tiga dimensi. Penggabungan yang apik antara virtual reality dengan massively multiplayer online roleplaying games (MMORPGs). Web akan menjadi dunia maya dalam artian lanskap dan manusianya ada di layar komputer dalam bentuk 3D.  Contoh Web 3.0 dengan ciri ini yang sudah ada adalah http://secondlife.com. Mudahnya, jika Anda memiliki akun di Facebook, hanya bisa menampilkan foto dan teks, di http://secondlife.com, Anda memiliki avatar, tentu dengan fasilitas foto dan teks seperti di Facebook. Namun, social networking di sini dilakukan secara 3D. Kita berkenalan, menambah teman, dan berbincang (chatting) layaknya di Facebook dengan cara berjalan di dalam kota dan bertemu dengan avatar lain.
readmore »»  

Rabu, 19 September 2012

TEKNOLOGI WEB

readmore »»  

Senin, 17 September 2012

Teknologi Informasi Web

Berikut bahan kuliah presentasi Teknologi Informasi Web..silahkan di download..
Download file Materi Pertama
Download file materi Kedua
Download file Materi Ketiga 
readmore »»  

Senin, 13 Agustus 2012

AHP (bagian 1)

Pada hakekatnya AHP merupakan suatu model pengambil keputusan yang komprehensif dengan memperhitungkan hal- hal yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Dalam model pengambilan keputusan dengan AHP pada dasarnya berusaha menutupi semua kekurangan dari model-model sebelumnya. AHP juga memungkinkan ke struktur suatu sistem dan lingkungan kedalam komponen saling berinteraksi dan kemudian menyatukan mereka dengan mengukur dan mengatur dampak dari komponen kesalahan sistem (Saaty,2001).
Peralatan utama dari model ini adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya adalah persepsi manusia. Jadi perbedaan yang mencolok model AHP dengan model lainnya terletak pada jenis inputnya. Terdapat 4 aksioma-aksioma yang terkandung dalam model AHP 
1. Reciprocal Comparison artinya pengambilan keputusan harus dapat memuat perbandingan dan menyatakan preferensinya. Prefesensi tersebut harus memenuhi syarat resiprokal yaitu apabila A lebih disukai daripada B dengan skala x, maka B lebih disukai daripada A dengan skala 1/x 
2. Homogenity artinya preferensi seseorang harus dapat dinyatakan dalam skala terbatas atau dengan kata lain elemen- elemennya dapat dibandingkan satu sama lainnya. Kalau aksioma ini tidak dipenuhi maka elemen- elemen yang dibandingkan tersebut tidak homogen dan harus dibentuk cluster (kelompok elemen) yang baru 
3. Independence artinya preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatif-alternatif yang ada melainkan oleh objektif keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan dalam AHP adalah searah, maksudnya perbandingan antara elemen-elemen dalam satu tingkat dipengaruhi atau tergantung oleh elemen-elemen pada tingkat diatasnya 
4. Expectation artinya untuk tujuan pengambil keputusan. Struktur hirarki diasumsikan lengkap. Apabila asumsi ini tidak dipenuhi maka pengambil keputusan tidak memakai seluruh kriteria atau objectif yang tersedia atau diperlukan sehingga keputusan yang diambil dianggap tidak lengkap
Selanjutnya Saaty (2001) menyatakan bahwa proses hirarki analitik (AHP) menyediakan kerangka yang memungkinkan untuk membuat suatu keputusan efektif atas isu kompleks dengan menyederhanakan dan mempercepat proses pendukung keputusan. Pada dasarnya AHP adalah suatu metode dalam merinci suatu situasi yang kompleks, yang terstruktur kedalam suatu komponen-komponennya. Artinya dengan menggunakan pendekatan AHP kita dapat memecahkan suatu masalah dalam pengambilan keputusan. 

Prosedur AHP
            Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode AHP meliputi :
1.      Menyusun hirarki dari permasalahan yang dihadapi.
Persoalan yang akan diselesaikan, diuraikan menjadi unsur-unsurnya, yaitu kriteria dan alternatif, kemudian disusun menjadi struktur hierarki seperti Gambar di bawah ini :
2.      Penilaian kriteria dan alternatif
Kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1988), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik dalam mengekspresikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty dapat dilihat pada Tabel berikut
.
 To be continued... :D

readmore »»  

Fuzzy Analytical Hierarchy Process (DSS/AI)

F-AHP merupakan gabungan metode AHP dengan pendekatan konsep fuzzy (Raharjo dkk, 2002). F-AHP menutupi kelemahan yang terdapat pada AHP, yaitu permasalahan terhadap kriteria yang memiliki sifat subjektif lebih banyak. Ketidak pastian bilangan direpresentasikan dengan urutan skala. Untuk menentukan derajat keanggotaan pada F-AHP, digunakan aturan fungsi dalam bentuk bilangan fuzzy segitiga atau Triangular Fuzzy Number (TFN) yang disusun berdasarkan himpunan linguistik. Jadi, bilangan pada tingkat intensitas kepentingan pada AHP ditranformasikan ke dalam himpunan skala TFN. Chang (1996) mendefinisikan nilai intensitas AHP ke dalam skala fuzzy segitiga yaitu membagi tiap himpunan fuzzy dengan 2, kecuali untuk intensitas kepentingan 1. Skala fuzzy segitiga yang digunakan Chang dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menyelesaikan permasalahan pembobotan F-AHP. Pada teori F-AHP yang dikembangkan oleh Chang telah banyak diterapkan dalam penyelesaian beberapa studi kasus, seperti jurnal Kahraman (2004),Hwang(2009). F-AHP teori Chang (1996) Menurut Chang (1996) dalam sebuah jurnal (international journal of science direct), adapun langkah penyelesaian F-AHP adalah: 1.Membuat struktur hirarki masalah yang akan diselesaikan dan menentukan perbandingan matriks berpasangan antar kriteria dengan skala TFN. 2.Menentukan nilai sintesis fuzzy (Si) prioritas. 3.Jika hasil yang diperoleh pada setiap matrik fuzzy, M2 = (l2, m2, u2) ≥ M1 = (l1, m1, u1) dapat didefinisikan sebagai nilai vector. 4.Jika hasil nilai fuzzy lebih besar dari k fuzzy , Mi (i=1,2,...,k) yang dapat didefinisikan sebagai V (M ≥ M1,M2,...,Mk) = V[(M ≥ M1) dan (M ≥ M2) dan ... (M ≥ Mi)] 5.Normalisasi bobot vektor atau nilai prioritas kriteria yang telah diproleh, W= (d(A1), d(A2), ..., d(An))T Dimana W adalah bilangan non-fuzzy.

Sebagai contoh kasus penerapan metode FAHP kedalam suatu sistem pendukung keputusan, anda dapat mendownload Paper Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Dosen Teladan menggunakan metode FAHP dengan mengklik link dibawah ini.
Download Paper

Reference: Kahraman, Cengiz, Ufuk Cebeci, dan Da Ruan, ”Multi- Attribute Comparison of Catering Service Companies Using Fuzzy AHP: The Case of Turkey,” International Journal of Production Economics 87, hal.171- 184, 2004.
readmore »»  

Rabu, 20 April 2011

Destiny...

Though I want to, I can't say anything to you..
How can I tell you my sadness?
The silence speaks, and I hide myself away from everyone to weep..
It's as if time has stopped here. Everywhere, there's a strange sadness..
readmore »»  

Senin, 18 April 2011

Persiapan Analisa Kebutuhan

Kebutuhan menjelaskan rincian yang dikerjakan dalam software, dan merupakan langkah pertama untuk menghasilkan solusi. Aktifitas kebutuhan juga disebut analisa kebutuhan, definisi kebutuhan, kebutuhan software, spesifikasi umum, spesifikasi fungsi dan analisa.

Kenapa harus membuat analisa secara formal?

Analisa kebutuhan yang eksplisit sangat penting. Analisa kebutuhan yang eksplisit meemastikan bahwa pemakai dan bukan programmer mengoperasikan fungsi sistem. Jika kebutuhan eksplisit, pemakai dapat meninjau dan menyetujuinya. Jika tidak, programmer biasanya membuat keputusan atas kebutuhan selama pemrograman. Analisa kebutuhan yang eksplisit mengingatkan kita tentang kebutuhan pemakai.

Analisa kebutuhan eksplisit mencegah timbulnya adu argumentasi. Kita membuat keputusan dalam ruang lingkup sistem sebelum mulai memprogram. Jika kita tidak setuju dengan programmer lain tentang operasi program, kita dapat melihat kebutuhan yang ditulis sebagai acuan.

Memperhatikan kebutuhan dapat meminimalkan perubahan sistem setelah pengembangan dimulai. Jika ada kesalahan coding, kita tinggal mengubah beberapa baris dan melanjutkan kerja. Jika ada kesalahan kebutuhan selama coding, desain harus diubah sesuai perubahan kebutuhan. Kita mungkin harus menghilangkan sebagian desain lama, dan karena hal ini mengakomodasikan kode yang telah ditulis, maka desain baru memerlukan waktu lebih lama.Bahkan kode yang tidak berpengaruh harus diuji ulang sehingga perubahan di bagian lain tidak menimbulkan kesalahan baru.

PS: Analisa kebutuhan seperti air. Mereka mudah dibentuk ketika membeku - Anon :)

Source: Code Complete- A practical handbook of Software Construction by Steve McConnell
readmore »»